You may have to Search all our reviewed books and magazines, click the sign up button below to create a free account.
ÒKeindonesiaan adalah keberagaman. Kehidupan ini, prinsipnya, tentang kebinekaan yang harus diperjuangkan dan terus kita rawat bersama.Ó ÑSinta Nuriyah Abdurrahman Wahid Puncak skenario Tuhan dalam teater kehidupan ini adalah jika masing-masing kita mendapati diri sebagai manusia dan istiqamah berusaha menjadi manusia. ÑEmha Ainun Nadjib Mengapa Kondom Gergaji? Frasa Òkondom gergajiÓ sanggup melemparkan imajinasi pembaca secara menghentak, ke hal-hal ekstrem di luar kepatutan dan etika, di luar dogma menuju realita, yang selama ini mungkin malu atau tabu kita ungkap. Dan di situlah terletak esensi dari kumpulan esai ini, untuk mengajak Anda meninggalkan rutinitas dan hal-hal duniawi ya...
Terinspirasi dari kisah-kisah Timur, dalam karya Anthony de Mello, Maulana Rumi, Ajah Bram, bahkan Disatannos dan pengalaman pribadi yang cukup mewarnai lembar demi lembar yang tak begitu tebal ini, buku ini pun seakan mendapat rahim subur untuk kelahirannya dalam bentuk yang sederhana: cerita! Kenapa harus cerita? Sebab “manusia”, seperti ungkap seorang guru, “adalah makhluk pencerita”. Tak kala seseorang mendengar kalimat “pada suatu hari...” ia bisa menikmati suatu nilai dan ajaran tertentu, tanpa harus merasa dihakimi. Sebab, sekalipun kerinduan purba manusia adalah pada Kebenaran Hakiki, ia tak benar-benar mau ketika dianggap keliru. Ketika mendapati sebuah cerita tentang ke...
Nabi Muhammad saw., berkhotbah di hari tasyrik, “Wahai sekalian manusia, Tuhan kalian satu, dan ayah kalian (Nabi Adam) satu. Ingatlah, tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas non-Arab, pun sebaliknya. Tidak ada kelebihan bagi yang berkulit merah atas orang berkulit hitam. Demikian sebaliknya, kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?” Mereka menjawab, “Ya, benar Rasulullah, engkau telah menyampaikan.” (HR. Ahmad) Bahkan, Nabi Muhammad sendiri bukan Arab asli. Leluhur beliau adalah Nabi Ismail bin Ibrahim as., berasal dari distrik Orkelda atau Ur Kaldan, negeri Babilonia (sekarang Irak), sebelum akhirnya keluarga ini hijrah ke Bakkah atau Mekah, dan Nabi Ibrahim sendiri ...
Siapa filsuf besar abad ini? Kamu! Ya, kamu. Para milenial adalah filsuf terhebat untuk hidup mereka sendiri. Konsekuensinya, jika kamu berusaha menjalani hidup seperti orang lain, sehebat apa pun dia, itu bukan tandingan bagi hidupmu sendiri. Tidak ada persoalan dalam filsafat, karena persoalan kita itu sebenarnya adalah seputar rekening, jodoh, komedo, kolesterol, kerusakan lingkungan, budaya korup, penyalahgunaan agama. Siapa yang peduli, Bro? Selama ini apakah kalian susah payah berdarah-darah memahami filsafat? Kali ini, biarkan filsafat yang memahamimu, mempelajarimu dengan tekun! Makna filsafat sebagaimana lazim diajar-paksakan sebagai Òcinta kebijaksanaanÓ ini terlalu narsis dan te...
Pesantren adalah cakrawala tak berujung, laut tak bertepi, sumur tanpa dasar yang takkan pernah habis dikaji dan diarungi, khususnya di Nusantara ini. Kitab kuning warisan para ulama klasik dari berbagai penjuru dunia, sekian disiplin intelektual dan khazanah spiritual dengan berbagai mazhab dan matra, menyatu dan berpadu dengan kearifan tradisi khas Indonesia di pesantren. Manakala sebagian umat Islam terjebak pada gegap-gempita lalu ramai-ramai ingin menjadi Arab, Eropa, dan Amerika, para santri lebih memilih menjadi Indonesia. Apapun itu, pesantren adalah matahari dalam sistem tata surya kehidupan dan keindonesiaan. Bahwa dalam jagat galaksi kehidupan yang lebih luas ini masih terdapat banyak sekali matahari-matahari yang lain, hal itu tidak membuat matahari bernama pesantren menjadi redup dan padam. Inilah pesantren. Inilah Peradaban Sarung!
Al-Munqidz min adh-Dhalal adalah salah satu dari sekian banyak karya Imam al-Ghazali yang terkenal. Ini adalah buku autobiografi, tepatnya autobiografi pemikiran. Lewat buku ini, pembaca diberikan gambaran tentang sejarah pencarian Imam al-Ghazali terhadap kebenaran, juga gambaran lika-liku pencariannya yang heroik. Buku ini ditulis di penghujung hidup Imam al-Ghazali, pasca penulisan Ihya’ ‘Ulumuddin. Dengan gaya penulisan yang singkat, padat, dan menawan, ia mengklasifikasikan empat golongan penjamin kebenaran: teolog, kaum batiniyah, filsuf, dan sufi. Menurutnya, kebenaran tidak mungkin keluar dari empat golongan ini. Mula-mula ia memasuki ilmu kalam, tahap kedua mendalami epistemolog...
Buku ini memuat kiat-kiat dalam menempuh jalan spiritual tingkat dasar—sebagaimana judul yang diberikan Imam al-Ghazali sendiri, yaitu Bidāyatul Hidāyah (Permulaan Hidayah). Bak semesta hidayah, sebagaimana buku-buku beliau lain yang ditulis pasca-uzlah, buku ini hadir dengan spirit menggabungkan dimensi “fikih” dan “tasawuf” yang dulu sempat tak akur karena dibawa oleh orang yang salah. Secara umum, di dalam buku ini, beliau mengulas tiga pembabakan besar untuk seorang sālik (penempuh jalan spiritual). Pertama, bagaimana memulai rutinitas yang baik untuk menaati perintah Allah; kedua, mewaspadai dan menjauhi segala laranganNya; ketiga, tata krama kepada Allah dan sesama makhluk. Istimewanya, petikan dan penjelasan nasihat yang beliau tuangkan di buku ini benar-benar tulus, yang sanggup dirasakan dalam degup jantung segenap pembaca.
Kang Maman (Penulis, Pegiat Literasi, Kreator & Pemulung Kata-kata) ÒSetiap orang bisa menggaungkan kalimat ÔJadilah diri sendiriÕ. Bahkan, setiap orang bisa dengan mudah menasihati orang lain, ÒJadilah diri sendiri!Ó Tapi, tanpa disadari, mereka hilang tak berbekas di tengah kerumunan, justru karena gaungan ÒJadilah diri sendiri!Ó Mengapa itu bisa terjadi? Buku ini bisa menjadi cermin untuk menemukan jawabnya. Hati-hati, kadang-kadang kita sendiri tidak mengenal sosok yang ada di dalam cermin di hadapan diri kita.Ó Prof. DR. Ir. Asep Saefudin (Rektor Universitas Al Azhar Jakarta) ÒTidak banyak orang masuk ke wilayah berpikir tentang hal-hal mendasar kemanusiaan, apalagi di zaman di...
PROMO Hingga 31 Desember 2020 Code Promo: Z54X4J0Y7C8SM Bayangkan Anda sedang berpuasa di luar negeri. Menghabiskan bulan Ramadhan jauh dari kampung halaman dan keluarga. Perbedaan waktu, budaya, bahasa, dan Agama menjadi tantangan tersendiri ketika harus berpuasa selama 19 jam saat musim panas di Eropa. Sebaliknya, waktu berpuasa hanya 10 jam di Australia karena bertepatan dengan musim dingin. Tak ada kolak, es buah, atau pun cendol, melainkan cemilan yang belum familiar di lidah saat di Jazirah Arab. Langkanya suara adzan, suara lantunan Al-Qur'an dari toa masjid, apalagi suara takbir di malam Idul Fitri di Amerika. Kisah Ramadhan Mahasiswa Rantau, kumpulan cerita-cerita pendek penuh inspi...
Kalau Anda melihat jaket ijo plus motor sedang lewat, apa yang ada di benak Anda? Yap, ojek online. Layanan yang saat ini sedang hype abis. Gimana engga hype, lha wong ojek online itu menyediakan hampir segala layanan. Antar orang, antar makanan, antar barang, hampir semua deh. Kecuali mengantarkanmu ke pelaminan. Eh. Nah, dalam dunia perojolan, ada istilah ngetem, alias momen menunggu orderan atau nunggu penumpang. Pas ngetem, ada saja 'kelakuan' para driver. Dari yang main game online, curhat soal penumpang sampai curhat soal rumah tangga. Namanya manusia, ada saja ceritanya. Ada manis, ada asin, ada-ada aja deh. Heuheu. Hasil interaksi itu membuat Hanif tertarik untuk menulisnya. Interaksi dengan sesama rekan ojol, interaksi dengan penumpang hingga ide-ide atau lamunan liar lainnya. Kebanyakan sih, berisi ide liar dan hasil interaksi Hanif dengan penumpangnya. Mengapa interaksi dengan penumpang? Yha karena dia nganter penumpang, masak nganter sesama temen ojol? Heuheu. Penasaran apa itu? Temukan jawabannya di buku ini.