You may have to Search all our reviewed books and magazines, click the sign up button below to create a free account.
Sejak awal, dia tak pernah berniat memilikiku. Pun denganku yang tak pernah terpikir akan jatuh cinta padanya. Lantas, kenapa rasa itu harus tumbuh? Kenapa aku harus jatuh cinta padanya? Ke mana rasa benci yang kutanamkan sejak awal? Jika bisa memilih, aku ingin bertahan dengan rasa benci itu. Agar saat tiba waktu berpisah, yang tertinggal hanyalah kebahagiaan, bukan luka dan air mata. Kenapa takdir seakan-akan mempermainkan? Ketika ingin menjauh, aku dipaksa tinggal. Namun, ketika ingin bertahan, kenapa malah dipaksa untuk pergi? Sungguh, aku lelah. Jika tahu akan sesakit ini, aku tak akan memulai untuk jatuh cinta padanya.
Ketidakadilan dalam keluarga di masa lalu, membuat Varen Syailendra bersahabat dengan luka. Pria itu tumbuh tanpa siraman cinta orang tua, hingga berakhir membenci seluruh anggota keluarganya. Tersebab rasa benci yang sama, pimpinan kawanan geng motor itu nekat menodai Jija Prameswari yang merupakan cinta pertama sang adik. Selalu diasingkan sejak kecil, menumbuhkan ambisi untuk mengalahkan saudaranya. Lantas, bagaimana jika tanpa disadari, ia justru telah jatuh hati pada sang korban jauh sebelum mereka bertemu? Akankah Jija sudi membagi maaf? Ataukah luka baru yang akan Varen dapat? “Merekalah keluargaku, meski tak ada nama mereka dalam namaku. Nyatanya, keluarga itu tak melulu soal ikatan darah.” (Varen Syailendra)
Gige merupakan putri bungsu Keluarga Mananta yang terpandang dan kaya raya. Menjadi satu-satunya putri dalam keluarga, membuatnya selalu dimanja kemapanan dan kasih sayang. Ia selalu diperlakukan bak boneka kaca. Kesempurnaan hidup berada dalam genggaman Gige. Bahkan, kecantikan dan kecerdasannya mampu membius dua lelaki tampan, yakni Ken dan Gibran. Namun, ungkapan tidak ada hal sempurna memang benar adanya. Gige dipaksa menelan kenyataan pahit setelah mengetahui dirinya memiliki kondisi tak biasa. Lalu, apakah ia sanggup menerima kondisi tubuhnya yang berbeda? Mampukah ia mendapatkan kebahagiaan layaknya manusia normal? Siapakah lelaki yang mampu menerima keadaan tak biasa si Bungsu Mananta?
Hampir setiap remaja mengalami jatuh cinta. Begitu juga Auri. Sayang, perasaannya tertuju dan berputar di tempat yang tak seharusnya. Banyak kesalahpahaman yang terjadi saat Auri menyadari perasaannya. Ia bahkan mengalami tindakan bullying karena cinta yang salah sasaran. Sebab keberadaan Auri dianggap meresahkan bagi sekelompok gank anak populer di sekolahnya. Sampai kemudian Auri belajar menerima, bahwa tak seharusnya setiap cinta pertama itu berbalas, seperti perasaannya. Oleh karena itu, Auri belajar melepas dan melupakan segalanya. Lalu, di tengah kesibukannya menikmati hidup baru, datang seorang pria tak terduga. Pria yang pada akhirnya membawa Auri menuju cinta pertama yang sesungguhnya.
Doni berniat balas dendam terhadap Jarot, lelaki kaya yang telah merebut kekasihnya untuk dijadikan istri kedua. Dia berpura-pura melamar kerja menjadi sopir di keluarga Jarot. Gayung bersambut. Emma, istri sah Jarot terbuai ketampanan Doni, begitu pula kedua anak gadisnya. Akankah niat balas dendam Doni terlaksana? Bagaimana cara Doni untuk memuluskan usahanya?
Ketika rasa iri dan dengki meliputi hati, kentalnya darah persaudaraan pun kadang menjadi tak berarti. Tersebutlah, Yayah, anak keenam dari tujuh bersaudara yang kondisinya paling tidak mujur dalam segi ekonomi. Kondisi miskin papa, seringkali membawa ia pada kondisi disalah pahami, dan menempatkan dirinya menjadi pesuruh oleh anggota keluarga lainnya. Tak hanya masalah ekonomi tentu saja, ada hal lain dari cerita masa muda yang memantik sakit hati di dada Maryam yang membuatnya begitu menggebu membenci Yayah. Hidup dalam serba keprihatinan dan keterbatasan, tak lantas membuat Yayah juga keluarga kecilnya lupa akan bersyukur. Ada banyak hal sederhana yang membuat mereka tertawa bahagia. Ada banyak hal yang tampak tak berarti, tetapi begitu mengajarkan banyak nilai. Akankah Yayah mampu membuat semua saudaranya hidup dalam kerukunan? Seperti apa kehidupan masa kecil ketiga putri Yayah yang masih bersettingkan tahun 90-an tersebut? Lalu, bagaimanakah mereka menjalani kehidupan menjelang dewasa serta cara menghadapi debaran-debaran cinta yang ternyata sulit dielakkan?
Mirya tertegun, menatap lekat pada pria yang kini berdiri tegak di depannya. Meski tak dapat melihat dengan jelas wajah Arka karena malam yang kian larut, tapi ia yakin saat ini pria itu pun sedang bersedih. "Kenapa kamu begitu tega? Datang padaku, menjebakku dalam rasa ini, sedangkan ujung kisah ini akan berakhir sebagai yang kedua?" tanya Myria dengan suara bergetar. Luka yang turut terungkap dengan tanya itu membuat Arka serta merta meraih wanita itu dalam dekapan. Menggumamkan kata maaf yang disambut isakan oleh Myria. "Kamu jahat, Arka." Sebulir air mengiringi kalimat yang diucap lirih Myria. Ia terisak dalam dekapan Arka, meratapi nasib atas cinta pertamanya. Cinta yang kata orang membawa bahagia, tapi berubah bagai simalakama saat di tangannya. "Kumohon, Myria. Menemukan wanita lain lagi untuk membahagiakan istriku, aku tidak sanggup." "Kenapa harus aku? Kenapa aku?" Myria semakin terisak. Melangkah ke depan, ia tak sanggup, sedangkan tak mungkin baginya untuk berbalik lagi. "Karena sama sepertimu, aku juga mencintaimu." Tak ada yang diucapkan Myria sebagai jawaban. Bibirnya terkatup rapat, sedangkan air mata semakin deras jatuh di pipi.
Nismara dengan percaya diri melabrak seorang pengusaha yang dianggap menjadi pelakor dalam rumah tangganya. “Hati-hati dengan suudzon Anda. Siapa tahu, bukan begitu situasi real-nya.” Pernyataan wanita tajir itu justru menciptakan misteri baru. Di sisi lain, seorang muslimah mualaf dijadikan bulan-bulanan sang mertua hanya karena etnisnya. Dendam masa lalu membuat seorang bapak tega merusak mahligai putranya dengan berbagai cara. Tangan terbuka menerima sokongan dana dari sang menantu, tetapi pongah menampik keberadaan dan status menantu non-pribumi itu. Pada puncaknya, sebuah kesepakatan dibuat demi mendapat restu. Akankah barter kejam tersebut diterima mualaf cantik non-pribumi itu? Padahal sang mertua sudah antipati pada etnis menantunya, jauh sebelum sang putra lahir.
“Nikah sama om, yuk!” Eh, buset! Aku kaget bukan main, orang yang duduk di sebelahku ini sudah tidak waras atau bagaimana? Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba mengajak nikah. Mana tidak pernah ketemu sebelumnya. Aku hanya pasang wajah melongo, beruntung tidak ada lalat yang masuk mulut untuk sekadar nongkrong. “Gimana, mau?” Ya Tuhan, memang benar kalau aku punya niatan buat mengajak nikah orang yang kutemui di jalan. Apa harus secepat ini juga? Aku memang pernah berdoa supaya berjodoh dengan orang yang belum pernah kukenal. Akan tetapi, apa harus dengan cara seperti ini?
Saling sayang, bukan jaminan bisa bersanding di pelaminan. Mungkin kalimat itulah yang tepat untuk mewakili kisah Hanum dan Dirga Prasta. Hubungan yang sudah dijalani selama tiga tahun, harus kandas begitu terkena tikungan tajam dari Aris Gumelar, membuat mereka jatuh ke dalam jurang perpisahan. Aris datang membawa orang tua dan juga Pak Kyai, sehingga keluarga Hanum tidak mempunyai daya untuk menolak lamaran mereka. Sebenarnya, apa motif Aris sehingga begitu tega menikung Dirga yang notabene adalah sahabatnya sendiri? Benarkah, hanya Dirga yang patah hati di sini? Bagaimana hari-hari Hanum setelah menjadi istri Aris? Mampukah ia memberikan cinta, sementara di hatinya, nama Dirga tetap bertahta.