You may have to Search all our reviewed books and magazines, click the sign up button below to create a free account.
The literary canon is one of the most lively areas of debate in contemporary literary studies. This set of essays is both timely and original in its focus on the canon in South-East Asian literatures, covering Burma, Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Philippines, Thailand and Vietnam. They vary in focus, from the broad panoramic survey of trends in a national literature to very specific discussions of the role of individuals in shaping a canon or the place of a particular text within a tradition, and from contemporary to traditional literature. They include discussions of the development of prose fiction, censorship and artistic freedom, the role of westerners in codifying indigenous literatures, the writing of literary history, the development of literary criticism and indigenous aesthetics.
Originating in 1891 in the Port City of Surabaya, the Komedie Stamboel, or Istanbul-style theater, toured colonial Indonesia, Singapore, and Malaysia by rail and steamship.
Indonesian Postcolonial Theatre explores modern theatrical practices in Indonesia from a performance of Hamlet in the warehouses of Dutch Batavia to Ratna Sarumpaet's feminist Muslim Antigones. The book reveals patterns linking the colonial to the postcolonial eras that often conflict with the historical narratives of Indonesian nationalism.
Tersaji dalam buku kecil ini kenangan sejumlah kawan tentang Arief Budiman, seorang cendekiawan-aktivis yang dihormati dan dicintai para junior maupun rekan seangkatan. Bukan hanya puja-puji, sejumlah kritik juga dilontarkan kepada kakak kandung Soe Hok Gie ini. Termasuk bermacam paradoks yang melekat dalam pribadinya sebagai manusia, makhluk seni, man of literature, dan sebagai seorang ilmuwan. Kendati demikian, semua kritik itu tetap dilandasi rasa hormat dan pengakuan bahwa Almarhum adalah seorang intelektual publik yang jujur. Bahkan mereka yang paling terganggu dengan kritiknya pun harus mengakui satu hal: segala yang dilakukan Arief sebagai cendekiawan-aktivis bukanlah demi kepentingan pribadinya. Banyak saksi tentang sikap tanpa pamrih ini. Membaca buku ini, sedikit-banyak kita akan mengetahui posisi Arief semasa hidupnya yang penuh ketegangan kontestasi dan resistensi. Pada akhirnya, kita harus mengakui bahwa kepribadian seseorang bersegi-banyak, multi-dimensional, dan Arief adalah salah satu contoh penting bagi masyarakat, bangsa, dan politik Indonesia. Dia pemberi inspirasi bagi yang mencintai dan membencinya.
Kritik sastra merupakan salah satu cabang studi sastra yang penting dalam kaitannya dengan ilmu sastra dan penciptaan sastra. Dalam bidang keilmuan sastra, kritik sastra tidak terpisahkan dengan cabang studi yang lain, yaitu teori sastra dan sejarah sastra (Wellek dan Warren, 1968: 39). Dalam bidang penciptaan sastra, kritik sastra yang merupakan cabang studi sastra yang berhubungan langsung dengan karya sastra yang konkret itu (Wellek, 1978: 35) mempunyai peranan penting dalam pengembangan sastra (Pradopo, 1967: 13). Berdasarkan hal itu, sangatlah penting meneliti kritik sastra Indonesia modern sejak timbulnya hingga sekarang. Meskipun usia kritik sastra Indonesia modern belum lama dibandin...
Buku ini mulai ditulis pada saat kembali mengemukanya beberapa kasus rabun sastra Chairil Anwar di media sosial bersamaan dengan peringatan 100 tahun kelahiran Chairil Anwar. Rabun sastra adalah istilah yang dicetuskan oleh penyair Indonesia Taufik Ismail dalam Kongres Bahasa Indonesia VII pada tahun 1998, istilah tersebut lahir dari keprihatinan Taufik Ismail atas masih rendahnya pengetahuan dan pemahaman atas beberapa karya sastra Indonesia yang merupakan bagian dari kanon sastra Indonesia.
None