You may have to Search all our reviewed books and magazines, click the sign up button below to create a free account.
Siapa yang tidak mengenal Bill Gates? Ya, pencipta Microsoft ini dikenal sebagai sosok kaya, sukses, dan eksentrik. Bahkan, majalah Times memasukkan namanya ke dalam daftar 100 orang yang paling berpengaruh pada abad ke-20! Kegeniusan Bill Gates telah mempengaruhi revolusi teknologi komputer yang berkembang saat ini. Dapat dilihat, nyaris tidak ada manusia yang bisa jauh dari komputer. Lantas, bagaimana kebiasaan sehari-hari dan cara belajar Bill Gates sehingga membuatnya genius? Buku yang ada di tangan Anda ini akan mengupasnya secara tuntas. Tentunya, masih banyak orang genius dunia lainnya yang dibahas, seperti Thomas Alfa Edison, B.J. Habibie, Nelson Tansu, dan lain-lain. Jadi, tunggu apa lagi? Segera ambil buku ini, tiru kebiasaan sehari-hari dan cara belajar mereka, serta bersiaplah menjadi orang genius berikutnya! Selamat membaca!
Sesiapa pun boleh berubah dalam hidupnya; daripada bodoh menjadi genius, daripada miskin menjadi kaya, atau daripada hina menjadi terhormat. Syaratnya adalah perlu menjalani proses yang sepatutnya dan berusaha keras untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Semua perkara dapat diubah. Namun ada satu perkara yang tidak boleh berubah, iaitu perubahan itu sendiri. Buku Seni Mengubah Nasib mengumpulkan senarai tokoh genius yang berjaya mengubah nasib yang mereka menjadi masa depan yang lebih baik serta membawa revolusi dan manfaat besar buat manusia seluruh dunia. Hanya satu kemahiran yang perlu ada dalam diri seseorang yang mahu berubah adalah dengan meniru langkah demi langkah seorang individu yang sudah berjaya. Langkah pertama ini yang dianggap sebagai seni mengubah diri. Terdapat banyak langkah dan rahsia menarik dan mudah dipraktikkan dalam proses pembelajaran untuk berjaya. Jadi, tunggu apa lagi? Segera ambil buku ini, ambil langkah pertama, tiru kebiasaan harian dan cara belajar yang ada. Bersedialah menjadi orang berjaya dan genius berikutnya!
“Mengapa kambing saya disembelih?” tanya sang kiai. “Begini, Kiai,” jawab Gus Dur, “Kemarin Kiai dawuh, segala sesuatu yang ada di bumi ini milik Allah. Berarti kambing ini juga milik Allah.” “Ya, memang milik Allah semua, Gus. Tapi, ya, jangan kambing yang disembelih. ‘Kan ada ayam. Mbok, ya, yang disembelih ayam saja,” ujar sang kiai. *** Buku ini memuat kisah-kisah unik Gus Dur saat menuntut ilmu. Kisah-kisah unik Gus Dur dalam belajar ini didapat dari berbagai literatur dan sumber. Selain itu, buku ini juga mengulas secara lengkap kisah-kisah “kenakalan” Gus Dur ketika nyantri atau mondok. Kisah-kisah Gus Dur yang jenaka dan “nakal” menjadi selling point buku ini. Sehingga, melalui buku ini, pembaca bisa terhibur, bahkan terinspirasi untuk melakukan hal-hal “luar biasa” sebagaimana yang dilakukan oleh Gus Dur. Selamat membaca!
What is lifeaccording to the purpose of creation? What Makes a Christianity's life truly Happy? Who is the God of The Christianity? Everyone wants to live a happy life - that is why he strives again wealth,honor, power, family, academic achievment, good healty, etc...But what one obtains from these things of the world is like mirage. The worldly happiness is only transitory and not of eternal nature. Human beings strive to grasp this elusive happiness only to fall down exhausted. At the end of the day when man is about to depart this life, he realizes and confesses that "life is futile." Then what makes Christian's life truly happy? The answer is to live according to the Creator's purpose oc...
The delivery of essential goods to beneficiaries in the aftermath of a disaster is one of the main objectives of relief logistics. Thereby, the present work aims to improve relief logistics by improving the location selection of warehouses, distribution centers, and points of distribution. Consequently, it offers the potential to significantly improve the distribution of goods in the aftermath of future disasters and, thereby, increase disaster resilience.
Posthuman Southeast Asia: Ecocritical Entanglements Across Species Boundaries explores the posthuman in Southeast Asia from various ecocritical perspectives and encourages further and deeper entanglements between ecocritics and the bountiful, but also threatened, multispecies ecologies of this region. Southeast Asia is an area where humans and nonhumans have always been deeply entangled, from the indigenous and ancient traditions of animism to the variegated and blooming creativity of contemporary literature, art, music, drama, film, and other media. This book expands and enriches Southeast Asian ecocritical scholarship by incorporating posthumanist and new materialist perspectives. Across twelve chapters, this volume explicitly engages with Southeast Asian texts, cultural practices, and environmental issues from the broadly conceived theoretical framework of posthuman ecocriticism. They provide a uniquely inflected perspective on the literary, multimedia, and artistic dimensions of contemporary nature-cultures in Southeast Asia, as part of a concerted effort to disclose the complex entanglements of humans and nonhumans across the region.
Reprint of the original, first published in 1857. The publishing house Anatiposi publishes historical books as reprints. Due to their age, these books may have missing pages or inferior quality. Our aim is to preserve these books and make them available to the public so that they do not get lost.