You may have to Search all our reviewed books and magazines, click the sign up button below to create a free account.
Kadang kita merasa bahwa kita adalah orang yang paling malas membaca sampai suatu hari iseng-iseng kita masuk ke perpustakaan atau ke sebuah toko buku dan pulang dengan sebuah kantung terjinjing di tangan yang di dalamnya berisi beberapa antologi cerpen. Banyak lelaki yang acap merasa tidak membutuhkan apa-apa, namun ketika dia pergi ke pasar, pulang dengan entah apa-apa yang terisi dalam sejumlah kantung plastik yang desak-mendesak menggelayut di stang sepeda motornya. Pertengahan bulan seorang ibu muda acap merasa dirinya miskin lantaran suaminya belum gajian, namun perasaan itu bergegas pergi saat seorang sales pakaian menggelar dagangannya di lantai ruang tamu. Terkadang kita, ya, begitu...
Ditulis dengan gaya tutur yang akrab, lima belas kisah dalam Gadis Manis di Seputar Pertigaan ini mampu memotret berbagai persoalan manusia. Mulai dari sisi paling pribadi sampai gejolak politik yang memorakporandakan peradaban Aceh. Sebuah potret yang diambil dari sudut gelap, terang, serta remang-remang, berawal dari suasana tenang hingga mencapai titik tegang konflik yang memuncak. Kisah-kisahnya disajikan dengan nuansa getir, manis, dan terkadang begitu romantis, yang menghanyutkan pembaca ke inti cerita. Persoalan yang dihadapi tokoh-tokohnya membuat kita termenung, lalu tercenung. Alur kisahnya lurus, bertingkat-tingkat, dan begitu mudah diikuti. Musmarwan Abdullah, cerpenis terkuat Aceh, telah menerbitkan beberapa kumpulan kisah satiris dan inspiratif, yang mampu membuat pikiran dan hati pembaca tertuju pada indahnya kehidupan berbalut cinta kepada Tuhan dan sesama. Demikian pula cerita-cerita dalam buku ini, begitu kuat menyentuh sisi terdalam kemanusiaan yang senantiasa meninggalkan gema panjang dalam ingatan semua orang.
Apalah arti sehelai mukena, meski mahal, namun dapat menutupi ketelanjangan orang gila ini. Walau bagaimana, kebugilannya adalah kebugilan seluruh lelaki yang ada di pasar ini. Setelah melihat bagian bawah tubuhnya sudah tak telanjang lagi, lelaki lusuh melihat ke arah ibu itu, berkata, “Semua orang di pasar ini telanjang. Kecuali, ibu seorang.” Mendengar pernyataan itu, si ibu tersentak. Tak menyangka kata-kata tersebut keluar dari mulut orang gila. Pulih dari ketermanguannya, dia bertanya, “Apakah kamu seorang sufi atau orang gila?” Lelaki lusuh tak menjawab. Dia terus melangkah seraya berceracau pada diri-sendiri, “Apa bedanya?” katanya seakan menjawab pertanyaan ibu itu. Dan,...
Buku ini menyajikan kumpulan tulisan singkat tentang banyak hal, baik peristiwa kecil sehari-hari maupun kejadian-kejadian unik tak terduga, yang terjadi saat ini maupun di masa lalu yang ada kaitannya dengan masa kini. Umumnya adalah perenungan dan penggalian nilai yang menyentuh persoalan sosial, agama, pendidikan, dengan fi losofi ringan dan dikemas dalam gaya ungkap sastrawi yang indah, terkadang satir, adakalanya menikam, dan yang jelas cukup menggelitik. Sungguh bacaan yang amat sejuk, kaya, penuh makna, menghibur, sekaligus menginspirasi, memotivasi, dan membawa pencerahan.
Buku ini memuat cerpen-cerpen dengan setting tanah Aceh masa konflik bersenjata maupun peristiwa pasca bencana tsunami melanda daerah serambi mekah ini. Dalam cerpen penggali rencong tema konflik bersenjata antara tentara pemerintah dengan masyarakat Aceh penentang pemerintah dapat dibaca dalam buku ini. Melalui tokoh Gam Ubit cerita ini mengalir dan menguraikan perihal konflik bersenjata yang berdarah-darah itu. Gam Ubit adalah tokoh yang memiliki dendam pada Lem Gemuk dikarenakan Lem Gemuk merupakan kaki tangan tentara pemerintah. Dalam cerpen yang berjudul “Cahaya di Meunasah kami’, prahara masa konflik lebih tergambar secara luas, yakni bagaimana konflik bersenjata juga membuat masyarakat ketakutan melakukan aktivitas di malam hari. Aktivitas salat ke mesjid (meunasah) juga terganggu karena masyarakat takut ke luar rumah. Sedangkan peristiwa pasca tsunami dalam buku ini dapat dibaca dalam cerpen “ Lamno Pada Sebuah Kenangan”.cerita yang mengisahkan dahsyatnya bencana tsunami yang menghancurkan pesisir pantai barat Aceh.Dan tentunya dalam cerita ini juga disuguhkann kisa romantic-tragis antara tokoh aku dengan Dek Nong.
None
Study and teaching of Indonesian and Achinese literature in Nanggroe Aceh Darussalam.
Anthology of Achinese literature.
Essays on sociocultural conditions and religious life in Aceh; collection of articles.