You may have to Search all our reviewed books and magazines, click the sign up button below to create a free account.
Bagaimana kita memahami kian tumbuh suburnya berbagai brand lokal belakangan ini? Lihat saja, mulai dari kedai kopi, restoran, produk fashion, hingga fi lm, musik, dan buku lokal makin diterima oleh masyarakat, khususnya kaum milenial. Apakah ini hanya tren sesaat? Ataukah, muncul gelombang pasar yang baru akibat perubahan selera dan perilaku konsumen? Artisan Brand karya Handoko Hendroyono ini membantu kita untuk lebih memahami fenomena baru tersebut. Berbekal pengalaman puluhan tahun sebagai praktisi periklanan dan pengembang brand lokal, Handoko juga membeberkan seperangkat cara jitu untuk tetap bertahan dan berkembang di zaman yang terus berubah.
Dunia komunikasi, advertising, dan marketing menemukan habitat lebih menantang. Habitat yang indah, penuh dengan dinamika yang tak terpikirkan sebelumnya. Kemungkinan-kemungkinan baru ini menyebabkan penghuninya harus belajar, bermetamorfosis, dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan. Pendekatan mainstream dan pendekatan non-mainstream seperti bertumpukan karena memang ini adalah masa transisi model komunikasi, masa chaotic yang bisa jadi positif karena peluang-peluang baru bermunculan. Brand Gardener adalah sebuah attitude. Bahwa siapa pun kita, apakah CEO, ahli personal branding, aktivis sosial, Brand Gardener, seniman, wartawan, chef, atau siapa saja, idealnya menjadi seorang Brand Garde...
Setiap kota memiliki narasi otentik yang harus diangkat. Karena itu, saya terinspirasi oleh Gerakan Kalcer Jenama Berdaya, yang menghimpun praktik baik kebudayaan dari berbagai kota di Indonesia. Pendekatan adaptive reuse menjadi pilihan efektif untuk mengangkat kebudayaan lokal. Misalnya, Samsara Living Museum di Bali yang memanfaatkan hutan bambu menjadi museum hidup, dan M Bloc di Jakarta yang menghidupkan kembali bangunan tak terpakai dengan semangat Jaksel. Menghidupkan kembali budaya adalah kunci untuk memperkuat peradaban kita. Dengan memanfaatkan peninggalan sejarah yang ada, kita dapat melihat bahwa peradaban harmonis adalah hasil dari kombinasi inovasi, budaya, dan kebijakan yang t...
This is a book based on a series of interviews by and with Luthfi Hasan on Instagram Live during Covid-19 quarantine weeks in April-September 2020. The interview sessions started as a personal project to remain hopeful and optimistic as the Author adjusted to the new routine of staying at home. This book serves as a documentation of the Instagram Live sessions as well as an archive of this exceptional time in our history.
Buku ini mengenai tentang infromasi Jakarta yaitu : Fashion, Makanan, Culture, Community, Rekreasi, Review, History dan Entertain.
Mei 2011, di hari ulangtahunnya yang ke-21, Willy didiagnosis kanker otak stadium 3B. Kondisinya memburuk meski telah dioperasi hingga hanya bisa terbaring lumpuh. Beruntung ayahnya membaca berita di sebuah koran tentang alat penghambat laju kanker yang diciptakan Warsito. Setelah 1 minggu memakai helm antikanker, Willy bisa bergerak dan berdiri. Dua bulan kemudian sel kanker di otaknya tidak lagi terdeteksi CT-Scan. Pada 2014, Wiilly bahkan menikah.
Buku ini bercerita tentang pencarian jiwa dan perjalanan berdamai dengan masa lalu melalui kopi. Ben dan Jody adalah sahabat yang membangun kedai "Filosofi Kopi", sebuah kedai kopi terkemuka di Jakarta yang hanya menyediakan kopi terbaik Indonesia. Sebuah tantangan untuk membuat kopi yang sempurna dari seorang pengusaha membawa Ben dan Jody pada petualangan menyusun serpihan masa lalu mereka yang penuh getir dengan orang tua mereka masing-masing. Seperti filmnya, buku ini tidak hanya bercerita, tapi juga membuka wawasan baru untuk melihat kopi Indonesia dalam bingkai yang penuh gairah dan cinta [Mizan, Bentang Pustaka, Film, Kopi, Dewi Lestari, Filkop, Indonesia] Spesial Bentang Dee Lestari
Sejak tahun 2007, 10 tahun lalu, saya sangat hobi mengoleksi dan menonton film. Ternyata pengalaman menonton banyak film selama 10 tahun jauh lebih banyak mengajarkan saya soal hidup dibandingkan 40 tahun pengalaman membaca ribuan buku dan jumpa ratusan manusia. Dengan menonton film yang bagus, seolah saya mengalami peristiwa yang lain, menyelam, masuk ke dalam film. Saya berinteraksi dengan aneka peran di film itu, merasakan kisah kedalaman atau kepalsuan cinta, perjuangan, persahabatan, sukses, atau kegagalan, pengkhianatan dan tragedi yang disajikan.
Di zaman ketika warga bumiputra masih dianggap sebagai warga negara kelas tiga, Wirosoeseno, Jawa tulen, dan Filipus Rechterhand, Belanda totok, pergi berkelana dan mendamparkan diri ke kota Kudus. Nasib mempertemukan mereka di sebuah pabrik rokok kretek besar yang mempekerjakan ribuan buruh. Di sana mereka menempa diri dan jatuh bangun bersama di tengah intrik politik, gebalau zaman, serta gelegar perang kemerdekaan. Mereka juga menjadi saksi kejayaan seorang priyayi rendah, yang dikenal dan dihormati sebagai ‘De Koning’, Sang Raja Rokok Kretek, Nitisemito. Berbekal kerja keras, semangat pantang menyerah, dan kecerdasan pemasaran yang melampaui zaman, Nitisemito berhasil mengubah hidupnya dari seorang mantan kusir dokar menjadi orang terkemuka di zamannya. Pengalaman hidupnya yang layak jadi ilham dan panutan bagi berlapis generasi sesudahnya.
Mas Muadzin ini orang goblok sama seperti saya. Orang pintar biasanya terlalu banyak ide, sehingga nggak ada satupun yang jadi kenyataan. Sementara orang goblok mungkin hanya punya satu ide, dan satu ide itu yang jadi pilihannya. - Bob Sadino - Buku terbitan Transmedia Pustaka