You may have to Search all our reviewed books and magazines, click the sign up button below to create a free account.
Buku bunga rampai ini merupakan hasil kajian Tim Otonomi Daerah Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI yang dilakukan selama tahun 2017. Kajian yang berjudul Dinamika Pengawasan Dana Otonomi Khusus dan Istimewa merupakan kelanjutan dari kajian sebelumnya (2016), yaitu Politik Pengelolaan Dana Otonomi Khusus dan Istimewa. Hasil kajian tahun 2017 menunjukkan bahwa aspek pengawasan menjadi poin penting dalam pengelolaan dana otonomi khusus (otsus) dan istimewa. Pelaksanaan pengawasan yang berlangsung di Aceh, Papua, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) cenderung kurang efektif. Ketiga daerah tersebut meskipun telah mendapatkan dana otsus dan istimewa, realitasnya pengawasan yang dilakukan oleh lem...
Buku bunga rampai ini merupakan hasil penelitian tahun 2016 yang dilakukan oleh Tim Otonomi Daerah di Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI sebagai upaya untuk mengkaji isu-isu politik lokal, khususnya desentralisasi fiskal asimetri, yang berjudul Politik Pengelolaan Dana Otonomi Khusus dan Istimewa. Kasus yang diambil dalam kajian ini adalah pengelolaan dana otsus di Aceh dan Papua Barat, serta pengelolaan dana istimewa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ketiga daerah ini memiliki kekhususan dan keistimewaan karena memiliki skema pengelolaan keuangan yang berbeda dari daerah otonomi umum lainnya. Namun, dalam implementasinya pengelolaan dana otsus dan istimewa ini belum optimal untuk member...
Dalam kajian ini dijelaskan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah sebuah provinsi yang mempunyai keistimewaan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan dalam kerangka Negara Republik Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan undang-undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 18B ayat(1) menyatakan "Negara Mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang". Untuk melengkapi dan memperjelas tentang keistimewaan tersebut, maka diterbitkanlah Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Yogyakarta. Untuk menyelenggarakan kewenangan istimewa tersebut, maka Pemerintah Pusat melalui meka...
Berbagai paradigma dan empiris terkait eksistensi pelabuhan disajikan dalam buku ini, baik dari sisi kepentingan sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Meniliknya secara komprehensif menjadi poin krusial dan kontekstual guna mendapatkan sari pati dalam mengakselerasi pemerataan pembangunan antarwilayah dan mendorong pembangunan ekonomi nasional. Bagaimanapun pelabuhan di Indonesia, yang didukung sumber daya maritim, akan menjadi salah satu agen pembangunan yang sangat potensial, baik di level nasional, regional, maupun internasional. Tiga pokok bahasan, yaitu pengembangan pelabuhan berkelanjutan dan investasi, sistem logistik dan tarifikasi, serta dampak infrastruktur pelabuhan dalam perdagangan dan potensi pelabuhan sebagai destinasi wisata, tersaji apik dalam buku ini. Ketiganya dieksplanasi runut dan elaboratif sehingga memudahkan bagi pembaca memilih dan memilahnya.
Secara histori, posisi wilayah Aceh menjelang kehadiran bangsa Eropa merupakan rute yang menghubungkan Asia Timur, Asia Tenggara, Asia Selatan sampai ke Asia Afrika bahkan sampai ke Eropa Barat. Dengan kondisi geografis itu, Aceh banyak disinggahi para pendatang dari negara lain; Tiongkok, Persia, Arab, dan Eropa. Terutama orang-orang Hindustani/India sekitar 2500 tahun yang lalu mulai datang ke Aceh (A. Miala, 1970: 5). Dari berbagai suku bangsa pendatang, maka percampuran penduduk terjadi di wilayah Aceh yang dipandang sebagai panggung sejarah dan budaya bagi Aceh dikunjungi multibangsa asal Asia. Secara etnografi yaitu asal muasal suku bangsa Aceh merupakan gabungan dari berbagai bangsa di dunia. Hasil kunjungan dapat dibuktikan baik pantai barat, utara, timur maupun selatan serta pedalaman Aceh berdasarkan karakteristik morfologi wajah warga Aceh berdasarkan pada keturunan Arab, China, Eropa, dan Hindia. Dalam sumber antropologi, asal-usul Aceh dari suku Mantir (dalam bahasa Aceh Mantee) yang memiliki kaitan dengan Mantera di Malaka, di mana bagian dari bangsa Mon Khmer (Monk Khmer) (Yusuf Al Qardhawy Al Asyi, 2019: 7).
On role of local and customary councils in politics and government of Aceh and Papua provinces; collection of articles.
Political perspective on the implementation of Indonesian law on local government of Aceh.